Penjualan retail Amerika Serikat (AS) pada Februari 2026
mencatat kenaikan, tetapi hal itu dapat berubah bulan depan jika perang dengan
Iran berlarut-larut, seperti diperingatkan para pakar.
Penjualan retail AS naik 0,6 persen pada Februari
dibandingkan bulan sebelumnya, kata Biro Sensus AS di bawah Departemen
Perdagangan pada Rabu (1/4) dalam sebuah laporan bulanan.
Namun, laporan tersebut disusun sebelum pecahnya perang di
Iran -- yang kini memasuki pekan kelima -- dan para pakar mengatakan bahwa
penjualan retail bulan depan berpotensi turun.
"Saya tidak melihat adanya cara untuk menghindari
inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan penjualan yang lebih lambat.
Satu-satunya pertanyaan adalah seberapa besar," kata Dean Baker, salah
satu pendiri Center for Economic and Policy Research, kepada Xinhua.
Selama perang dengan AS dan Israel, Iran menyebabkan
gangguan parah terhadap arus pelayaran di Selat Hormuz. Dampaknya, harga minyak
melonjak, dan para ekonom memperkirakan bahwa inflasi berpotensi naik tahun
ini.
Gary Hufbauer, rekan senior nonresiden di Peterson Institute
for International Economics, mengatakan kepada Xinhua bahwa dia yakin harga
minyak akan tetap berada di kisaran 100 dolar AS per barel untuk hampir
sepanjang tahun ini. Oleh karena itu, dia memperkirakan inflasi akan mendekati
atau bahkan melampaui 4 persen akibat perang dengan Iran.
Terlepas dari pernyataan yang sering dilontarkan Presiden AS
Donald Trump bahwa perang akan segera berakhir, para pakar mencatat bahwa
mengakhiri konflik tersebut mungkin lebih sulit daripada yang diyakini sang
presiden.
Trump mengatakan kedua negara saat ini sedang melakukan
pembicaraan, meskipun Teheran membantahnya.
Trump sempat mengemukakan gagasan untuk menarik diri dari
konflik tanpa menyelesaikan gangguan perdagangan di Selat Hormuz, yang menjadi
jalur bagi 20 persen minyak dunia.
Tanpa mengembalikan selat tersebut ke kondisi aktivitas
normal praperang, harga minyak dapat tetap tinggi untuk periode yang lebih
lama, kata para pakar.
"Saya rasa tidak ada yang berpikir harga minyak akan
kembali ke tingkat praperang, bahkan jika selat itu dibuka kembali besok,"
ujar Baker.
Gangguan ini juga bisa memicu kekurangan pasokan lain.
Akan terjadi kekurangan pupuk untuk penanaman di seluruh
dunia, yang berarti hasil panen yang lebih buruk, kecuali Selat Hormuz segera
dibuka kembali, kata Baker.
Laporan pada Selasa (31/3) menyebutkan bahwa harga rata-rata
nasional bensin di AS naik di atas 4 dolar AS per galon untuk kali pertama
sejak 2022. Warga AS semakin menunjukkan reaksi negatif terhadap perekonomian
AS seiring berlanjutnya perang, menurut jajak pendapat.
Sebuah jajak pendapat CNN yang dirilis pada Rabu menunjukkan
bahwa sekitar dua pertiga warga AS mengatakan kebijakan Trump telah memperburuk
kondisi ekonomi di AS.